Pariwisata

ponggok

Ponggok, Mata Air Pembawa Berkah

Finroll.com – Jika ada penghargaan bagi daerah yang mempunyai mata air terbanyak, mungkin kabupaten Klaten, di Jawa Tengah, akan menjadi pemilik penghargaan itu. Bagaimana tidak, Kabupaten Klaten di tenggarai mempunyai puluhan sampai dengan seratusan sumber air, atau mata air. Atau yang dalam bahasa setempat dikenal juga dengan nama umbul.

Anugrah dari yang Maha Kuasa ini juga membuat Klaten menjadi salah satu sentra padi di Indonesia. Hampir sebagian besar desa di Klaten, Jawa Tengah, bergantung pada bidang pertanian sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Kecuali satu desa di kecamatan Polanharjo, yaitu desa Ponggok.

18 tahun yang lalu, Ponggok merupakan desa miskin, dan bahkan masuk ke dalam golongan IDT (Infrastruktur Desa Tertinggal). Dengan andalan penghasilan desa yang sama dengan desa yang lainnya, yaitu pertanian. Yang notabene harus menunggu 4 bulan untuk menangguk hasil panen. Sampai beberapa tahun kemudian pun pendapatannya hanya Rp80 juta/tahunnya. Adalah seorang Junaedhi Mulyono yang merubah Desa Ponggok dari tertinggal menjadi terkaya, dengan wisata mata air sebagai andalan penghasilannya.

Junaedhi menggandeng pihak akademika dan para ahli untuk melihat dan berusaha memaksimalkan potensi alam desa, yang salah satunya adalah air yang cukup melimpah yang mucul dari mata air. Yang pada masa lalu hanya berfungsi sebagai tempat mandi dan menuci saja. Sampai terwujudnya wisata bawah air ponggok seperti sekarang ini , dengan penghasilan desa hampir mencapai Rp16 milyar/tahunnya. Bahkan menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Klaten.

Direktur Bumdes (badan usaha milik desa) Ponggok, Joko Winarno, saat ditemui Mongabay pada Maret 2019 lalu, mengatakan bahwa rata-rata pengunjung ekowisata Umbul Ponggok adalah 30.000 pengunjung per bulannya dengan penghasilan Rp9 milyar/tahunnya dari umbul. Dan 65 % penghasilan desa memang datang dari sektor pariwisata. Yaitu foto bawah air yang digagas Junaedhi Mulyono, yang kemudian di jaman serba media sosial seperti sekarang ini, menjadi viral dan sangat terkenal.

Joko mengatakan lebih lanjut, bahwa pihak desa sangat menyadari, bahwa yang dilakukan desa beberapa waktu sebelumnya baru meliputi asas 2 P dari 3 P yang dianjurkan dalam pembangunan yang berkelanjutan. 2 P itu adalah “People” dan “Profit”, yang mana ini sudah terwujud dengan baik, dan mengangkat warga desa ke kehidupan yang lebih sejahtera, melalui mata airnya.

Tinggal satu P yang sekarang memang sedang dilakukan dan digalakkan pada penduduk desa, yaitu Planet, atau dengan kata lain memelihara alam desa Ponggok, sehingga bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

Pengelolaan yang benar akan sumber alam desa, akan menjamin kelestarian dan keberlangsungannya. Di Desa Ponggok sendiri terdapat 4 mata air, yaitu mata air Ponggok, Sigedang, Kapilaler, dan Besuki.

Masyarakat yang berbondong-bondong datang untuk mengunjungi ekowisata Umbul Ponggok, tidak hanya membawa rupiah, tetapi mereka juga membawa sampah. Dan ini menjadi titik tolak yang menggedor kesadaran kades beserta aparat desa yang lainnya, untuk memikirkan masalah keberlangsungan dan kelestarian ini.

Umbul Ponggok yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk menarik wisatawan, tidak lagi diterapkan kepada umbul yang lainnya. Umbul Kapilaler misalnya, dibiarkan alami seperti apa adanya, dan memang cukup ramai juga didatangi wisatawan. Wisatawan dapat mandi dan bersnorkling di Umbul Kapilaler dengan nuansa alami, dengan ikan-ikan yang berseliweran kesana kemari, yang sengaja dipelihara di sana. Ikan-ikan yang ditebar adalah ikan-ikan yang memang sesuai dengan habitatnya.

Keterlibatan masyarakat melalui Pokdarwis, karang taruna, dan ibu-ibu PKK setempat dalam menjaga lingkungannya mulai diaktifkan. Selain menjaga agar Desa Ponggok selalu bersih dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan, warga Desa Ponggok juga berusaha menanam pohon di hulu atau lereng merapi. Menurut Joko, mungkin ini sedikit sekali artinya, tapi setidaknya, warga berharap selain di desa, kelestarian juga terjaga di bagian awal atau hulunya.

Beberapa peraturan tentang kelestarian alam pun mulai digodok di desa, diantaranya adalah menerapkan peraturan desa tentang pembangunan rumah yang harus menyisakan halaman tanah sebagai serapan air.

Menjaga sungai tetap bersih pun menjadi salah satu program desa. Melalui program water defender, desa Ponggok mulai menanami sungai mereka dengan ikan. Dengan begitu pemerintah desa berharap, tidak ada lagi masyarakat yang membuang sampah ke sungai karena sungkan melihat sungainya penuh dengan ikan. Dan tim water defender juga selalu mengingatkan warga desa yang masih bandel membuang sampah ke sungai. Dilarang menyetrum ikan dan perburuan liar terutama burung, juga dilakukan di Desa Ponggok.

Selain mata air sebagai ekowisata , sektor perikanan juga menjadi salah satu andalan pendapatan desa, dan dalam hal ini ikan Nila Merah. Program satu rumah satu empang/ kolam ikan, menjadi salah satu yang didorong desa kepada warganya. Dalam seminggu, Desa Ponggok menghasilkan satu ton lebih ikan, yang diikuti juga berbagai varian produknya seperti abon ikan dan lain sebagainya.

Penghasilan desa Ponggok yang luar biasa ini, disalurkan desa untuk berbagai kesejahteraan masyarakatnya, termasuk jaminan kesehatan dan pendidikan, dengan program satu rumah satu sarjana. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani pun angkat topi untuk keberhasilan Ponggok dalam mengelola desanya.

Alam akan memberi hasil yang melimpah kepada kita, jika kita menjaganya dengan baik. Mungkin hal itu yang sedang coba diterapkan warga Ponggok terhadap alamnya. Karena Desa Ponggok yang sekarang, dari desa yang tertinggal menjadi desa yang kaya dan maju, karena berkah dari alamnya. Dan oleh sebab itu, pelestarian yang dilakukan warga Desa Ponggok sekarang ini, merupakan wujud terima kasih mereka kepada alamnya.
Artikel Asli

Bagikan :

Bekas Pabrik Gula, Rest Area Tol Banjaratma Brebes Jadi Destinasi Favorit Pemudik

52502396

Finroll.com – Dioperasikan sejak 17 Maret 2019 lalu, kehadiran Rest Area KM 260B Banjaratma, Brebes di Tol Pejagan – Pemalang mulai dilirik perhatian. Di musim lebaran ini, namanya mulai dibicarakan para pemudik.

Digadang-gadang sebagai rest area terindah di Indonesia, eks pabrik gula PG Banjaratma ini juga punya banyak hal menarik.

Berlokasi di Tol Pejagan – Pemalang, Rest Area KM 260B Banjaratma merupakan kreasi terbaru dari sinergi BUMN. Sebelum jadi seperti sekarang ini, dahulu rest area ini merupakan bekas pabrik gula PG Banjaratma.

Sejarahnya, dahulu eks pabrik gula itu beroperasi di tahun 1913 di bawah Belanda sebelum akhirnya harus gulung tikar di tahun 1998 akibat tingginya biaya operasional. Tak berapa lama, bangunan itu pun ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dari yang tadinya tak terurus, sinergi BUMN pun melirik PG Banjaratma karena lokasinya yang dekat sekali dengan jalan tol. Pemugaran pun dimulai hingga saat ini walau belum beres 100%. Namun, PG Banjaratma kembali berdenyut sebagai rest area kekinian. berikut 4 hal menarik res area Banjaratma Brebes: 1. Masjid berornamen batu bata merah

Rest Area Banjaratma, Brebes, juga menyediakan fasilitas masjid untuk pemudik atau pengunjung yang menjalankan ibadah shalat. Masjidnya dirancang dengan ornamen batu bata merah.

Bagian ventilasi masjid juga dirancang menarik, yakni celah-celah batu bata yang tersusun rapi dan terdapat di banyak tempat sehingga membuat masjid menjadi sejuk. 2. Taman dan kebun binatang mini

Di Rest Area Banjaratma ada taman berupa kebun binatang mini yang isinya buung-burung dan kelinci, tempat ini sangat menarik perhatian khusunya bagi anak-anak. 3. Bangunan bekas cagar budaya

Rest area atau Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) Banjaratma jika dilihat dari fisik bangunannya memiliki ornamen klasik. Dulunya, bangunan di rest area ini merupakan bekas Pabrik Gula Banjaratma yang didirikan pada 1908 oleh perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam, Belanda, NV Cultuurmaatschappij. Area eks tungku di Rest Area KM 260B Heritage-Banjaratma(Dok. PT PP Sinergi Banjaratma) 4. Ada Spot Instagramable, Lokomotif dan Air Mancur

Di bagian luar terdapat lokomotif lama yang dahulu digunakan untuk mengangkut tebu sebelum diolah menjadi gula dan Air mancur. Kini, setiap sudutnya tak lolos dari incaran milenial yang mencari foto Instagramable. [berbagai sumber]
Artikel Asli

Bagikan :

Menengok Istana Warisan Kesultanan Islam di Nusantara

istana-raja-gowa

Islam yang diyakini masuk ke nusantara pada abad ke-7 Masehi meninggalkan warisan yang sangat banyak dan tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Bentuk peninggalan sejarah Islam di Indonesia juga sangat beragam karena ajaran Islam mencakup semua segi kehidupan. Sebagian besar peninggalan Islam itu merupakan hasil perpaduan budaya Islam dengan budaya setempat.

Menurut para ahli antropologi, terjadinya perpaduan budaya ini membuktikan bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara-cara damai tanpa adanya usaha menghapuskan kebudayaan yang telah ada. Peninggalan-peninggalan sejarah Islam di Indonesia hadir dalam beragam bentuk, seperti masjid, istana, makam, kaligrafi, dan karya sastra. Untuk masjid, kita mengenal Masjid Agung Demak, Masjid Kudus, Masjid Agung Banten, Masjid Katangka (Sulawesi Selatan), dan Masjid Sunan Ampel (Surabaya).

Bagaimana dengan istana?

Istana atau keraton peninggalan sejarah Islam pun tersebar di Tanah Air, mulai dari Istana Maimun di Sumatra Utara, Istana Kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku, Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon, Keraton Kesultanan Yogyakarta, sampai Istana Raja Gowa di Sulawesi Selatan. Mari kita kunjungi tiga di antara istana-istana tersebut.

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan tapak sejarah penting. Ia merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Sekarang ini, Keraton Kesepuhan memiliki museum yang cukup lengkap, antara lain, berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan, yaitu kereta Singa Barong. Kini, kereta itu tak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan.

Keraton Kasepuhan didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan takhta dari Sunan Gunung Jati pada 1506. Keraton Kasepuhan awalnya bernama Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Dewi Pakungwati wafat pada 1549 dalam usia sangat lanjut. Namanya lalu diabadikan sebagai nama keraton, yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang dikenal sebagai Keraton Kasepuhan.

Secara arsitektur, bangunan dan interior Keraton Kasepuhan menggambarkan berbagai macam pengaruh, mulai dari gaya Eropa, Cina, Arab, maupun budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua elemen atau unsur budaya di atas melebur menjadi satu pada bangunan Keraton Kasepuhan tersebut.

Istana Maimun

Bangunan indah ini merupakan salah satu ikon Kota Medan, Sumatra Utara. Didesain oleh arsitek Italia, istana ini dibangun oleh Sultan Deli Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Sebagai warisan Kesultanan Melayu-Deli, Istana Maimun didominasi warna kuning khas Melayu.

Istana ini terdiri atas dua lantai yang dibagi menjadi tiga bagian: bangunan utama, sayap kiri, dan sayap kanan. Sekitar 100 meter di depan istana, berdiri Masjid al-Maksum yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Medan. Memiliki luas total 2.772 meter persegi, Istana Maimun kini menjadi tujuan wisata. Selain berserajah dan berusia tua, istana ini banyak dikunjungi wisatawan juga karena arsitekturnya yang unik, yakni memadukan unsur budaya Melayu dengan gaya arsitektur Islam, Spanyol, India, dan Italia.

Sekarang, Sultan Deli tak lagi memiliki kekuasaan politik. Namun, garis suksesi takhta masih terus berlanjut hingga saat ini.

Istana Raja Gowa

Masyarakat Sulawesi Selatan lebih mengenalnya sebagai Istana Balla Lompoa. Dibangun pada 1936, istana yang terbuat dari kayu ini terakhir kali ditempati oleh Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang.

Pada zaman dulu, istana ini berfungsi sebagai tempat kediaman dan pertemuan para pemangku adat Kerajaan Gowa. Tapi, saat ini istana dialihfungsikan sebagai museum untuk mengenang perjalanan sejarah Kerajaan Gowa. Berlokasi di Kota Sungguminasa, Gowa, istana ini bisa dicapai dengan 30 menit perjalanan dari Kota Makassar.

Kerajaan Gowa tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia ti mur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Kerajaan Gowa juga berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sulawesi. Wila yah kerajaan ini sekarang berada di ba wah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Pemimpin paling terkenal dari kerajaan ini bergelar Sultan Hasanuddin yang pernah mengobarkan Perang Makassar (1666- 1669) untuk melawan kezaliman VOC.
Artikel Asli

Bagikan :

Waktu Operasional Museum di Kawasan Kota Tua Ditambah

kota-tua

Finroll.com  – Setelah tidak beroperasi pada hari pertama lebaran, kini beberapa objek wisatayang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Daerah DKI Jakarta akan menambah waktu operasional untuk para pengunjung yang datang di hari kedua lebaran.

Pihak Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua menyampaikan, jam berkunjung ke berbagai museum di kawasan wisata sejarah di Jakarta Barat tersebut akan diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB.

Ini artinya waktu berkunjung ditambah tiga jam, jika dibanding waktu biasanya yang hanya sampai pukul 17.00 WIB.

Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, Norviadi Setio Husodo, menuturkan perpanjangan waktu buka museum-museum di kawasan Kota Tua itu berdasarkan peraturan baru Gubernur DKI Jakarta dan diberlakukan mulai tanggal 6 Juni 2019 hingga seterusnya.

Untuk itu, ia menambahkan, pada hari kedua Lebaran yang jatuh 6 Juni, semua museum di kawasan wisata Kota Tua dibuka hingga pukul 20.00 WIB.

“Selama berada di Kota Tua, pengunjung bisa menikmati wisata sejarah ke museum-museum, bisa berswafoto dengan berbagai gedung di sana, bisa menikmati Kali Besar Timur dengan nuansa bangunan cagar budaya di sekitarnya,” ujar Norviadi seperti yang dikutip dari Antara, Kamis (6/6).

“Saya yakin kawasan wisata Kota Tua bisa menjadi daya tarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan.”

Menurutnya ada beberapa museum yang dapat dikunjungi di kawasan Kota Tua, yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bahari, Museum Magic Art 3D.

Dalam Museum Sejarah Jakarta, ia menambahkan, para pengunjung bisa melihat bangunan dapur khas masyarakat Betawi zaman dulu dan beberapa barang peninggalan kolonial Belanda. Di museum ini, pengunjung juga bisa melihat penjara pada masa penjajahan Belanda.

Namun bila ingin melihat berbagai koleksi wayang dari seluruh Indonesia, pengujung bisa mampir ke Museum Wayang.

Sementara di Museum Bank Indonesia, pengunjung dapat menyaksikan film sejarah Bank Indonesia di ruang teater. Para pengunjung juga bisa melihat berbagai koleksi uang dari jaman dulu sampai yang terbaru yang disimpan di ruang numismatik.

Sedangkan museum terbaru di Kota Tua adalah Museum Magic Art 3D, yang menyajikan berbagai lukisan tiga dimensi yang menarik untuk berswafoto.

Salah satu wisatawan dari Cikarang bernama Ester Dearaujo (17) mengaku senang dengan konsep wisata museum di kawasan Kota Tua, dan dia menilai

Tarif tiket masuk ke museum-museum di kawasan kota tua juga cukup terjangkau. Sebagai contoh, tiket masuk ke Museum Sejarah Jakarta dan Museum Wayang hanya dibanderol Rp5.000.

Sementara itu harga tiket masuk ke Museum Magic Art 3D adalah Rp60 ribu untuk orang dewasa, Rp40 ribu untuk anak-anak hingga remaja 17 tahun, dan Rp20 ribu untuk balita (3-5 tahun).

Selain mengunjungi museum, para pengunjung kawasan wisata Kota Tua juga dapat melakukan berbagai aktivitas lainnya, seperti bermain sepeda ontel warna-warni yang disewakan, berfoto atau berswafoto dengan manusia patung dan orang-orang berkostum, mencoba jasa pembaca garis tangan, hingga kuliner.
Artikel Asli

Bagikan :

Libur Lebaran, Waspadai Wilayah Pesisir

Pesisir

Finroll.com  – Memasuki libur lebaran, tempat wisata pesisir menjadi langganan untuk dikunjungi masyarakat yang hendak berwisata bersama sanak saudara.

Untuk itu,  BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap adanya potensi gelombang tinggi yang akan terjadi dalam empat hari ke depan,terhitung sejak 4 – 7 Juni 2019 di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.

Seperti dikutip melalui situs setkab.go.id, peningkatan gelombang tinggi disebabkan oleh adanya sistem tekanan tinggi 1009 hPa di Perairan Utara Sabang. Pola angin di wilayah utara ekuator umumnya dari timur ke selatan, kecuali di Perairan Utara Papua Barat, angin berembus dari barat laut ke utara dengan kecepatan 4 – 15 knot. Sedangkan di wilayah selatan ekuator umumnya dari timur ke tenggara dengan kecepatan 4 – 25 knot.

Sementara itu, kecepatan  angin tertinggi terpantau berada di Perairan Pulau Sawu-Pulau Rote, Laut Timor, Perairan Sulawesi tenggara, Laut Banda, Perairan Kepulauan Letti-Kepulauan Tanimbar, Perairan selatan Kepulauan Kei – Kep. Aru, Laut Arafuru, serta Perairan Yos Sudarso-Merauke. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, terpantau adanya potensi peningkatan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Indonesia seperti Perairan Utara Sabang, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Perairan Sabang – Banda Aceh, Perairan Utara Jawa Timur – Kep. Kangean, Perairan Barat Aceh.

Selain itu, potensi peningkatan gelombang juga beberapa di antaranya terdapat di Perairan Kotabaru, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Selat Makassar bagian selatan dan tengah, Perairan Pesisir Bengkulu, Perairan Timur Kepulauan Selayar, Perairan Barat Lampung, Laut Flores, Samudera Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias.

Ada juga potensi di Perairan Bau Bau, Selat Sunda bagian selatan, Laut Seram bagian timur, Selat Sape bagian selatan dan Selat Sumba, Perairan Selatan dan Timur Kep. Sula, Perairan Selatan Flores, Perairan Fak Fak – Kaimana, Laut Sawu, Perairan Amamapre, Laut Natuna Utara, Perairan Utara Kep. Kei – Kep. Aru, Perairan Selatan Kalimantan, serta Perairan Barat Yos Sudarso.

Beberapa wilayah perairan Indonesia lainnya juga berpotensi diterpa gelombang yang lebih tinggi berkisar antara 2,5-4 meter. Wilayah perairan tersebut di antaranya Perairan Barat Enggano, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Perairan Manui – Kendari, Teluk Tolo, Samudera Barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, Perairan Selatan Pulau Sawu – Kupang – Pulau Rote, Laut Timor selatan NTT, Perairan Timur Kepulauan Wakatobi, Perairan Selatan Pulau Buru – Pulau Seram, Laut Banda, Perairan Kepulauan Sermata – Kepulauan Letti, Perairan Kepulauan Babar – Kepulauan Tanimbar, Perairan Selatan Kepulauan Kei – Kepulauan Aru, Selat Bali – Lombok – Alas bagian selatan, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTT, dan Laut Arafuru.

Selain mengimbau masyarakat yang hendak berwisata pesisir, BMKG juga mengimbau nelayan untuk memperhatikan keselamatan pelayaran.

BMKG menyebutkan, beberapa moda transportasi yang berisiko di antaranya adalah perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m), kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m).

Selain itu juga ada kapal ferry (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m), dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m).

“Untuk itu, harap berhati-hati dan tetap waspada,” pungkas BMKG.
Artikel Asli

Bagikan :

Kudapan Khas Betawi yang Bikin Lebaran Tambah Berwarna

kembang-goyang

Finroll.com – Lebaran merupakan saat bahagia. Dimana sanak saudara berkumpul bersama untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tak hanya makanan utama seperti ketupat dan opor ayam, namun juga disediakan camilan khas lebaran.

Orang Betawi memiliki beberapa camilan yang wajib ada saat lebaran. Apa saja ya?

Kue Akar Kelapa

Kue akar kelapa merupakan kue kering yang berasal dari Betawi. Nama akar kelapa ini diambil lantaran bentuk kuenya menyerupai akar kelapa. Rasanya gurih legit dengan tekstur crunchy atau garing. Biasanya, kue akar kelapa ini disajikan bersama dengan kacang goreng.

Kue Biji Ketapang

Kue asli dari Betawi lainnya bernama kue biji ketapang. Ini merupakan kue tradisional yang metode pengolahannya dengan cara digoreng. Bahan-bahan untuk membuat kue biji ketapang adalah tepung terigu, parutan kelapa, telur ayam, dan beberapa bahan lainnya. Citarasa dari kuliner satu ini adalah dominan gurih lantaran kelapa parut dan santan di dalamnya.

Kue kembang Goyang

Kue kembang goyang, ada yang menyebutnya sebagai kue antari ataupun juga kue matahari. Itu karena bentuknya ada yang menyerupai bunga atau kebang, ada pula yang mirip lingkaran matahari. Rasanya dominan manis, gurih dengan tekstur renyah yang bikin sumringah. Kembang goyang ini merupakan kuliner yang berbahan dasar tepung beras dengan bahan lainnya.

Dodol Betawi

Dodol khas Betawi yang juga biasanya menjadi sajian lebaran. Pilihan rasa dodol betawi hanya sedikit saja, dan inilah yang membuatnya seperti eksklusif. Ada rasa ketan putih, ketan hitam dan juga durian. Proses pembuatannya sangat rumit. Meskipun begitu kala lebaran Idul Fitri tiba, kuliner ini laris manis diburu banyak orang.

Manisan Kolang Kaling

Kudapan lain yang biasa disajikan saat lebaran oleh orang-orang Betawi adalah manisan kolang kaling. Ini merupakan kolang kaling yang biasanya dijadikan minuman saat puasa. Manisan kolang kaling ini memiliki warna yang cantik karena memang diberi pewarna makanan.

Ada merah, hijau, dan juga kuning.

Jangan khawatir pewarna yang digunakan juga aman, biasanya hijau menggunakan daun pandan, merah menggunakan stroberi dan kuning dari labu kuning. Camilan yang sangat digemari anak-anak saat lebaran, kenyal-kenyal enak.

Tape Uli

Ini merupakan kuliner yang terdiri atas dua jenis makanan, yakni tape yang terbuat dari beras ketan hitam dan uli yang terbuat dari beras ketan putih yang ditumbuk. Tape uli merupakan kuliner yang biasanya selalu ada saat lebaran tiba.

Orang-orang cukup menggemarinya, terutama mereka para orang tua. Untuk rasanya adalah perpaduan antara asm, manis, dan sedikit gurih.

Kue Satu

Kue satu atau kue satru juga merupakan sajian lebaran masyarakat Betawi lainnya. Ini merupakan kue yang pengerjaanya cukup rumit. Kue satu perlu dicetak satu per satu pada cetakan kayu lalu diketuk-ketuk cetakannya hingga kuenya nanti keluar.

Biasanya bahan yang digunakan untuk membuat kue satu ini adala tepung kacang hijau dan gula pasir halus. Rasanya benar-benar membuat terpikat, kamu akan ketagihan saa mencobanya.

Lebaran makin meriah ya dengan sajian camilan khas lebaran dari Betawi  ini. Anda mau coba?
Artikel Asli

Bagikan :

Puncak Sosok Bantul ; Satu Lagi Destinasi Wisata yang Hits di Jogjakarta

Puncak-Sosok-Bantul

Finroll.com – Kabupaten Bantul kembali menghadirkan tempat wisata malam yang Instagramable dari ketinggian. Adalah Puncak Sosok, mampirlah jika mudik ke Yogyakarta.

Berlokasi di Dusun Jambon, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Puncak Sosok dapat dicapai dengan melakukan perjalanan darat sejauh 16 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta.

Untuk rutenya, pengunjung hanya perlu menuju Jalan Pleret-Patuk, nantinya sebelum tanjakan menuju Cino Mati pengunjung mengambil arah ke utara dan di sana sudah ada plang petunjuk jalan menuju Puncak Sosok.

Sesampainya di Dusun Jambon, pengunjung harus melewati jalan cor blok yang menanjak. Tak hanya menanjak, jalan itu terbilang sempit, bahkan hanya bisa dilintasi satu unit mobil. Meski cukup jauh, pengunjung akan dimanjakan pemandangan indah perbukitan nan hijau di sepanjang jalan tersebut.

Beberapa menit menanjak, pengunjung akan sampai di area parkir Puncak Sosok. Dari area parkir tersebut, pengunjung masih harus berjalan kaki menyusuri jalan cor blok yang menanjak hingga akhirnya sampai di Puncak Sosok.

Sesampainya di Puncak Sosok, pengunjung akan disambut pemandangan TPST Piyungan dari ketinggian. Berjalan ke arah barat, pengunjung akan menemui spot foto dan jalan setapak menuju gardu pandang di Puncak Sosok.

Berjalan lebih jauh, nantinya tampak sebuah panggung dari bambu berada di ujung jalan setapak tersebut. Selain itu, di sisi sebelah kiri panggung terdapat 6 bangunan dari bahan bambu dan beratap jerami kering. Ke-6 bangunan itu adalah food court yang menyediakan aneka makanan, minuman dan penyewaan alas duduk atau tikar.

Suasana di Puncak Sosok sendiri terbilang sangat tenang, asri, dan jauh dari bisingnya kendaraan bermotor. Semilir angin juga menambah kesyahduan saat menikmati pemandangan Yogyakarta dari ketinggian, khususnya saat sore dan malam hari.

Tampak pula beberapa pengunjung tengah berswafoto ria di beberapa spot foto. Tak hanya itu saja, sebagian besar pengunjung tampak duduk santai beralaskan tikar sembari menikmati pemandangan alam yang disajikan dari Puncak Sosok.

Rudi Haryanto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jabal Kelor atau yang menaungi Puncak Sosok mengatakan, bahwa Puncak Sosok tergolong tempat wisata baru di Kabupaten Bantul, khususnya Kecamatan Pleret. Mengingat Puncak Sosok baru dibangun sejak tahun 2017.

“Puncak Sosok ini baru berusia sekitar 1 setengah tahun. Untuk nama Puncak Sosok sendiri karena orang sini (Dusun Jambon) dari dulu menyebut daerah sini dengan Sosok, karena ada di Puncak lalu dinamakan Puncak Sosok,” ujarnya saat ditemui detikcom di Puncak Sosok, Kamis sore kemarin (30/5/2019).

Rudi melanjutkan, awal mula ide menyulap Puncak Sosok sebagai tempat wisata berasal dari pemuda Karang Taruna di Dusun Jambon. Hal itu karena mereka melihat Puncak Sosok dapat berpotensi menjadi tempat wisata seperti di kawasan wisata di Mangunan, Kecamatan Dlingo.

“Kita sempat terkendala akses jalan. Tapi setelah dibackup dana kas desa akhirnya kita mulai mengeraskan jalan di tahun 2017 dan dilanjukan mengecor jalan pada bulan Desember tahun 2017,” ucap Rudi.

“Setelah akses jalan sepanjang 550 meter jadi, Puncak Sosok langsung dijadikan tempat acara dari Polda, dan mulai dari situ mulai dikenal dan ramai didatangi pengunjung itu bulan April 2018 sampai saat ini,” sambungnya.

Menurut Rudi, banyaknya pengunjung yang datang karena Puncak Sosok karena kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi downhill, mulai skala lokal hingga skala nasional.

Karena itu, secara bergotong royong warga mulai membuat trek downhill dengan rute Puncak Sosok hingga Puncak Gebang. Rute trek sendiri sepanjang 1,4 kilometer.

“Selain itu treknya kan tidak begitu tinggi, jadi banyak yang minat mengadakan lomba (downhill) di sini. Tapi untuk konsep awal Puncak Sosok tetap menyuguhkan panorama alam dari ketinggian,” katanya.

“Di mana saat sore hari pengunjung melihat langsung Kota Yogyakarta, karena Puncak Sosok langsung menghadap ke arah Barat. Dan saat malam hari pemandangannya juga sangat bagus, karena tampak nyala lampu warna-warni dari ketinggian,” imbuh Rudi.

Karena banyak pengunjung yang berasal dari pesepeda, Puncak Sosok mulai buka dari jam 5 pagi. Sedangkan untuk menikmati pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian, Puncak Sosok buka hingga jam 12 malam setiap harinya.

Mulai dari banyaknya pengunjung yang datang itulah, Rudi dan kawan-kawannya mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk mengambangkan fasilitas di Puncak Sosok. Seperti halnya pembangunan spot foto menyerupai jembatan panjang dari bambu di sebelah barat panggung.

Di mana dari jembatan tersebut pengunjung bisa berswafoto ria dengan latar belakang pemandangan Kota Yogyakarta baik saat pagi, sore dan malam hari. Namun diakuinya pengunjung paling banyak berfoto di belakang 6 warung di samping panggung dan di atas panggung tersebut.

“Biaya masuk ke Puncak Sosok itu sukarela, dan uangnya kami pakai untuk membangun fasilitas lainnya. Rencananya, kami mau mengembangkan area di bawah panggung untuk camping ground dan area permainan anak-anak,” katanya.

“Terus kalau besok ada rezeki lebih mau melakukan pelebaran akses jalan, karena saat ini hanya bisa dilintasi satu mobil saja,” imbuhnya.

Rudi menambahkan, menjelang libur lebaran tahun ini, Puncak Sosok juga melakukan persiapan dengan membersihkan area gardu pandang dan memperbaiki tanah yang semula digunakan sebagai jalur downhill. Selain itu, selama libur Lebaran, khususnya saat sore hari akan ada pertunjukan musik akustik di panggung utama.

“Penerangan sudah diperbaiki, parkir sudah diperluas, kurang masalah air bersih untuk pengunjung saja. Tapi sudah kami atasi dengan menambah bak air dari 2 jadi 4 buah bak air ukuran besar berbahan plastik,” katanya.

Perlu diketahui, di Puncak Sosok sudah terdapat fasilitas musala, kamar mandi, beberapa tempat duduk dan beberapa gazebo untuk beristirahat pengunjung.

Salah seorang pengunjung, Nur Wibowo (25), warga Dusun Geneng, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul mengatakan, bahwa ia sudah beberapa kali ke Puncak Sosok dengan bersepeda. Menurutnya, Puncak Sosok sangat pas untuk dijadikan tempat melepas lelah usai bersepeda.

“Saya sudah 4 kali ke sini (Puncak Sosok) karena tempatnya nyaman dan pemandangannya indah. Apalagi kalau capek bersepeda terus istirahat sambil melihat pemandangan di sini kan enak,” ujarnya.

Wibowo menambahkan, bahwa ia menilai area Puncak Sosok perlu mengalami perbaikan, khususnya untuk menambah pohon perindang atau tempat berteduh. Selain itu, kekurangan lainnya masalah aroma sampah dari TPST yang kerap tercium saat angin berhembus dari arah selatan.

“Terus akses jalan yang di bawah (menuju Puncak Sosok) masih belum halus, dan fasilitas pendukungnya perlu ditambah. Kalau 2 hal itu direalisasi pasti semakin banyak pengunjung yang datang ke sini, karena tempat ini (Puncak Sosok) sudah didukung dengan pemandangan yang indah,” pungkasnya.
Artikel Asli

Bagikan :

Ingin Liat Rambut Nabi Muhammad SAW di rumah Opick, Perhatikan Hal Berikut Ini

rambut-nabi-SAW

Finroll.com – Opick membuka ziarah rambut Nabi Muhammad SAW di kediamannya. Pelantun ‘Tombo Ati’ itu memperbolehkan siapapun datang untuk ziarah.

Jumat (24/5/2019) Opick mengatakan tak ada persyaratan khusus untuk siapa saja yang ingin datang ziarah rambut Nabi SAW. Mereka tinggal datang ke rumah Opick di kawasan Pulo Gebang, Jakarta Timur.

“Nggak ada. Asal nggak haid saja kalau perempuan,” kata Opick melalui pesan singkat.

Untuk yang mau datang melihat sehelai rambut Nabi Muhammad SAW, Opick meminta agar mereka menjaga perilaku. Jangan sampai sehelai rambut Nabi Muhammad SAW itu seperti berhala yang disembah-sembah.

“Kalau ingin untuk melihat rambut Nabi bisa datang langsung ke rumah saya. Ajak keluarga juga boleh, ya asal konteksnya tidak berhala, karena ini rambut Nabi Muhammad,” ucapnya.

Opick diamanahkan Dewan Ulama Thariqah Internasional dan Pemerintah Turki untuk menjaga sehelai rambut milik Nabi Muhammad SAW selama seumur hidup.
Artikel Asli

Bagikan :

Menjelajah Rammang Rammang, Pegunungan Karst di Sulawesi Selatan

karst-rammang-rammang

Finroll.com – Tidak banyak orang tahu di balik pegunungan kapur di Sulawesi Selatan, tersimpan harta karun yang tidak ternilai harganya. Tepatnya di Rammang Rammang, jajaran pegunungan karst yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan. Lalu, ada harta karun apa sih sebenarnya di sana?

Kebetulan, ada dua teman saya yang juga penasaran dengan harta karun tersebut. Mereka adalah Thiara dan Dandi. Sampai penasarannya, mereka dengan niat berdandan seperti pemburu harta karun di film Indiana Jones.

Untuk menjalankan misi kita, tujuan pertama yang harus dicapai adalah Desa Berua. Sebuah desa yang dikelilingi megahnya jajaran pegunungan karst. Desa Berua bisa diakses dari Dermaga Rammang Rammang. Sebuah dermaga wisata yang terletak sekitar 50 kilometer di timur laut kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Oh ya, total ada 3 dermaga wisata yang terletak di Rammang Rammang. Perbedaan dari ketiga dermaga ini adalah panjang rute sungai menuju ke lokasi tujuan. Jangan bingung, semua rute sungai menyajikan panorama yang cakep kok. Kebetulan waktu itu kita memilih berangkat dari dermaga 2, karena dari dermaga 2 rute susur sungainya yang paling panjang.

Di dermaga 2 tersedia banyak perahu kecil yang siap mengantarkan kita menyusuri sungai Pute. Sungai yang menjadi akses utama menuju Desa Berua. Harga sewa perahu berkisar antara Rp 200.000 – 400.000 untuk perjalanan pulang pergi, dan dapat dibayar di akhir perjalanan. Cukup murah bukan, apalagi untuk rombongan banyak. Satu perahu bisa ditumpangi antara 4-10 orang, tergantung ukurannya.

Tips : Bawalah topi untuk mengatasi panasnya sengatan matahari, khususnya di musim kemarau. Kamu juga bisa menyewa caping atau topi khas petani seharga 5.000 rupiah di persewaan dekat dermaga. Yakin deh, kamu bakal memerlukan itu.

Petualangan dimulai! Sungai Pute yang berarti “putih” dalam bahasa Makassar memang menyajikan pengalaman yang sangat berbeda. Menyusuri sungai menggunakan perahu kecil, sembari melihat kokohnya tebing kapur yang seakan mengimpit di kanan-kirimu. Dramatis.

Desa Berua

Tenyata di balik kesan kering dan gersangnya bebatuan kapur ini tersimpan manfaat yang sangat besar lho. Salah satunya adalah karst sebagai tempat menyimpan air yang baik. Diperkirakan, setiap 1 meter kubik batuan karst dapat menyimpan cadangan air sebesar 200 liter.

Ini dikarenakan karst memiliki lapisan yang bernama epikarst. Epikarst berfungsi untuk mengalirkan air (hujan) sampai pada mata air dan sungai bawah tanah, yang pasti akan sangat berguna bila musim kemarau tiba. Berkat fungsi tersebut, kawasan karst menjadi salah satu tandon air terbesar di bumi.

Jika diamati, Rammang Rammang memiliki kemiripan dengan pegunungan karst yang juga berada di Tsingy (Madagascar), Krabi (Thailand), Shilin (Tiongkok), Ha Long (Vietnam).

Bukan itu saja, Rammang Rammang juga telah dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2001. Keren kan negara kita! Ya namanya warisan, sudah pasti kita harus bisa pandai menjaganya. Agar masih bisa diwariskan lagi kepada generasi-generasi kita berikutnya. Agar alam tidak rusak dan bumi tetap bisa tersenyum manis.

Puas menjelajahi desa Berua dan pegunungan karst nya, kamu bisa pulang menggunakan perahu yang sudah disewa tadi. Sedikit saran nih ya, lebih baik kamu melakukan perjalanan pulang mendekati senja (tapi jangan sampai terlalu malam juga). Karena pada perjalanan pulang kita bisa menjumpai kunang-kunang yang bercahaya berkumpul di pepohonan. Sebuah pemandangan yang sudah tidak mungkin lagi ditemukan di kota seperti Jakarta.
Artikel Asli

Bagikan :

Mudik, Saatnya Menikmati Wisata Alam di Banyuwangi

sukamade-tour

Setiap daerah memiliki destinasi wisata yang menarik. Pun demikian dengan Banyuwangi. Apalagi, daerah ini termasuk tujuan #PesonaMudik2019. Sudah pasti punya suguhan pariwisata yang spesial dan layak dikunjungi saat mudik nanti.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, Banyuwangi selalu siap dengan atraksi dan destinasinya. Untuk atraksi, Banyuwangi tidak perlu diragukan. Hampir tiap pekan ada kegiatan di sini. Begitu juga dengan destinasinya. Banyuwangi memiliki sejumlah wisata alam, termasuk pantai-pantai yang bakal membuat suasana mudik jauh dari kata membosankan!

“Banyuwangi menjadi destinasi wisata andalan baru di Indonesia. Destinasi untuk traveling dan selfie-selfie. Ada wisata budaya dan wisata alam. Semua ada di Banyuwangi. Wisatawan yang datang bukan hanya skala nasional, tapi banyak juga turis mancanegara,” ujarnya.

Berikut destinasi unggulan di Banyuwangi yang menarik untuk dikunjungi. Ada 10 destinasi yang kami rangkum, khususnya untuk Anda yang ingin mudik atau berlibur ke Banyuwangi.

1. Kawah Ijen

Kawah Ijen menyajikan pemandangan alam yang luar biasa menakjubkan. Kawah ini berada sekitar 2.368 meter di atas permukaan laut. Luasnya lebih kurang 20 km dan dikelilingi dinding kaldera setinggi 300-500 meter. Hal paling menarik dari destinasi ini adalah keberadaan Api Biru atau Blue Fire. Disebut demikian karena api yang terletak di bawah kawah ini berwarna biru. Terlihat sangat menarik saat kondisi sekitarnya gelap.

2. Pantai Sukamade

Inilah surganya penyu bertelur di Banyuwangi. Pantai Sukamade merupakan habitat tempat penyu-penyu raksasa untuk bertelur. Di kawasan ini terdapat juga penetasan semi alami untuk perkembangbiakan penyu oleh petugas. Pengunjung dapat menyaksikan secara langsung penyu bertelur, melihat penangkaran penyu, dan mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke laut. Menarik sekali.

3. Pantai Pulau Merah

Dinamakan demikian karena ada sebuah bukit tak jauh dari bibir pantai yang tanahnya berwarna merah. Pengunjung bisa berjalan mendekat ke bukit tersebut saat air sedang surut. Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah berselancar. Pantai sepanjang 3 km ini memiliki ombak yang ideal bagi peselancar pemula. Uniknya, di kawasan pantai juga terdapat sebuah pura Hindu yang biasa disebut Pura Tawang Alun. Pura ini kerap digunakan sebagai tempat ritual pada saat-saat tertentu.

4. DeDjawatan Benculuk

De’Djawatan Benculuk adalah bangunan tua yang dulunya digunakan untuk mengelola transportasi kereta api. Saat ini, daerah tersebut beralih fungsi sebagai destinasi wisata. Daya tarik utama destinasi ini adalah deretan pohon trembesi yang hits abis.
Saat berkunjung ke DeDjawatan Benculuk, anda akan berasa ada di negeri dongeng. Dijamin keren.

5. Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo disebut-sebut sebagai tanah tertua di Pulau Jawa. Secara administrasi, lokasinya berada di wilayah Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Sebagai kawasan Geopark Nasional, pengunjung bisa menikmati ratusan jenis flora dan fauna.

Saat memasuki pintu gerbang, wisatawan akan melihat sebuah candi Hindu bernama Situs Kawitan. Selanjutnya, wisatawan akan memasuki kawasan Sadengan. Yaitu sebuah padang savana yang luas. Di sana terdapat rusa, banteng Jawa, dan hewan liar lainnya. Jika beruntung, Anda juga akan melihat burung merak.

6. Pantai Teluk Hijau

Pantai ini menawarkan udara segar pantai bercampur udara hutan tropis Taman Nasional Meru Betiri. Perjalanan ke Pantai Teluk Hijau memang memerlukan tenaga ekstra. Namun, semua kelelahan akan terbayar saat Anda menikmati panorama laut yang memikat. Teluk ini merupakan destinasi wisata di Banyuwangi yang masih sangat terjaga kemurniannya.

7. Air Terjun Kalibendo

Air terjun ini memiliki ketinggian mencapai 10 meter. Secara administratif berada di Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Atau tepatnya berada di kaki Gunung Ijen dan masuk dalam kawasan Agro Wisata Kalibendo. Di sana juga terdapat perkebunan kopi, karet dan cengkeh.

8. Pantai Watudodol

Pantai Watu Dodol berada di poros Banyuwangi Situbondo. Hanya berjarak sekitar 2 km dari Pelabuhan Ketapang. Dari pantai ini, wisatawan bisa melihat kapal ferry lalu lalang antara Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Banyuwangi. Anda juga bisa menyaksikan keindahan destinasi wisata ini dari bukit yang berada di dekat pantai. Penasaran?

9. Pantai Wedi Ireng

Pantai ini berada di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Letaknya agak tersembunyi, namun sudah cukup popular bagi warga setempat. Jika ke sini, Anda akan dimanjakan dengan keindahan teluk berpasir putih serta ombak yang landai. Suasananya sangat tenang karena berada di antara perbukitan hijau yang menyejukkan mata.

10. Pantai Boom

Pantai ini dulunya adalah pelabuhan yang kerap diramaikan oleh para pedagang dan nelayan. Seiring berjalannya waktu, kini pantai tersebut berubah menjadi salah satu destinasi wisata di Banyuwangi. Pengunjung bisa melakukan aktivitas memancing, bermain air, atau sekadar berjalan-jalan di pinggir pantai. Keindahan Pantai Boom juga kerap dimanfaatkan untuk lokasi berbagai event yang diadakan Pemkot Banyuwangi.
Artikel Asli

Bagikan :