Pariwisata

Museum-History-of-Java

Museum History of Java, Kisah Al-Quran Walisongo Dibarter Surau

Finroll.com – Museum History of Java di Bantul, Yogyakarta, memiliki ratusan koleksi bersejarah. Salah satu koleksi yang menarik di museum yang terletak di Jalan Parangtritis Km. 55 atau Pyramid Cafe, itu adalah Al-Quran yang sudah ada dari zaman Walisongo.

Kepala Museum History of Java, Ki Sutikno mengatakan Al-Quran itu adalah satu dari sekian banyak koleksi yang nilainya paling mahal. Meski enggan merinci nilainya, Sutikno menceritakan untuk mendapatkan Al-Quran kuno itu, pihak museum harus melakukan barter atau menggantinya.

“Diganti dengan membangun dua buah surau di kawasan Kaliurang Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul,” kata Sutikno di Museum History of Java, Kamis 25 April 2019. Di museum itu setidaknya ada dua Al-Quran kuno yang masih tampak terawat

Pertama, mushaf Al-Quran yang dibuat dari kertas berbahan serbuk kayu dan terdiri dari jilid lengkap Al-Quran 30 juz. Al-Quran itu diperkirakan berasal dari abad 16.

Yang kedua sebuah Al-Auran dengan lembaran kertas berbahan merang atau bahan padi yang dihancurkan. Dengan tinta dari tumbuh-tumbuhan, kitab kedua ini tampak sudah lapuk namun tulisannya masih terlihat jelas. Al-Quran ini diperkirakan dibuat pada abad 17 atau periode kerajaan Mataram Islam.

Mengenai cara menelisik benda bersejarah, Sutikno menjelaskan pengelola Museum History of Java memiliki tim khusus untuk mencari dan mengumpulkan benda-benda bersejarah. “Ini semuanya asli, bukan replika, dan tentu kami rawat,” ujar Sutikno.

Sutikno melanjutkan, tim khusus yang mencari benda-benda sejarah koleksi museum itu sering mendapatkan benda dalam kondisi tak terawat. Setiap benda yang ditemukan tidak langsung dibawa ke museum, melainkan diteliti dulu dan dikaji makna historis dan filosofisnya.

“Ada benda yang mendapatkannya kami harus beli, ada juga yang diserahkan kepada kami begitu saja untuk dirawat di museum,” ujar Sutikno. “Benda-benda ini kami cari dari Sabang sampai Merauke.”
Artikel Asli

Bagikan :

7 Destinasi Wisata di Sorong Papua Barat, Gerbang Masuk Raja Ampat

pianemo-island-raja-ampat-06294.jpg.optimal

Finroll.com  – Sorong merupakan sebuah kota di Papua Barat yang dikenal sebagai gerbang masuknya wisatawan yang akan berkunjung ke Raja Ampat. Namun lebih dari pada sekadar gerbang masuk, Sorong ternyata memiliki potensi wisata yang tak kalah menarik.

Ada banyak wisata favorit di sorong yang bisa dieksplore wisatawan sebelum bertolak ke Raja Ampat. Dan yang pasti, wisata paling menarik di Sorong tak jauh-jauh dari wisata alam dan bahari.

Berikut beberapa ulasan mengenai destinasi wisata favorit di Sorong: 1. Piaynemo [source: TripAdvisor]

Destinasi wisata paling keren di Papua Barat tentu saja Raja Ampat.

Gugusan kepulauan yang memukau dengan bawah laut yang luar biasa indahnya bikin Raja Ampat istimewa.

Nah, kalau kamu mau ke Raja Ampat via kapal cepat dari Sorong bisa juga. Bahkan one day tour juga bisa lho.

Destinasi yang patut kamu cobain Piaynemo, gugusan pulau karang yang kece banget. 2. Telaga Bintang

[source: Twitter]Buat kamu yang pengen ke Raja Ampat dengan budget minimalis, lebih baik kamu coba paket tur sehari keliling Raja Ampat dari Sorong. Rutenya Piaynemo, Telaga Bintang, Snorkeling di Soandarek dan pasir timbul. Harganya jauh lebih murah ketimbang yang 3 atau 4 hari tur. Nah, Telaga Bintang jadi salah satu spot yang menarik meski butuh upaya keras untuk trekkingnya sih. 3. Pantai Tanjung Kasuari

Buat kamu yang males pergi ke luar pulau, tenang, ada pantai Kasuari yang bisa kamu tuju. Pasir putih, ombak tenang dan suasananya teduh. Itulah mengapa pantai ini jadi favorit warga Kota Sorong. Selain jaraknya yang relatif dekat, pemandangannya juga sangatlah indah. 4. Danau Ayamaru

[Source: Travelingyuk.com]Jika di Kalimantan ada Danau Labuan Cermin, maka di Sorong ada Danau Ayamaru yang tak kalah bening dan jernih. Berwarna biru kehijauan, danau ini masuk dalam salah satu daftar destinasi wisata favorit di Sorong. Memiliki kedalaman sekitar 6 meter, Danau Ayamaru ini juga mengalami pasang surut seperti ombak di laut. Masyarakat sekitar benar-benar menjaga kealamian dan ekosistem di sekitar danau ini.

Wisatawan yang datang ke Danau Ayamaru ini boleh saja bermain air, tapi perhatikan juga untuk tidak mengotori atau merusak ekosistem yang ada di lingkungan sekitarnya. 5. Tembok Berlin [Source: backpackerjakarta.com]

Gak hanya Jerman yang memiliki tembok Berlin, di Sorong juga ada Tembok Berlin lho. Tembok Berlin satu ini memanjang di pesisir kota Sorong yang tingginya cuma 1 meteran.

Bukan dindingnya sih yang spesial, tapi tempat ini adalah pusat jajanan dan kuliner di kota Sorong.  Jadi kalau di sana jangan lupa berburu kuliner di Tembok Berlin ya. 6. Pulau Buaya

[Source: backpackerjakarta.com]Pulau ini dinamakan Pulau Buaya bukan karena banyak terdapat buaya. Melainkan karena terlihat seperti buaya dari jarak kejauhan. Di pantai ini kamu bisa bermain bermacam-macam permainan mulai ATV, banana boat dan sebagainya. Tujuan wisata warga Papua Barat nih. 7. Pulau Doom Source: Portal Berita Bisnis Wisata

Pulau Doom terletak tak jauh dari Kota Sorong sekarang. Tapi kamu harus tahu bahwa pusat pemerintahan Kota Sorong dulunya ada di pulau ini. Pulau Doom pula pernah jadi basis pertahanan Hindia Belanda maupun Jepang. Jadi tak aneh banyak benteng dan peninggalan sejarah di pulau kecil ini.

Baca Juga: Masjid Bahtera Nabi Nuh, Tempat Ibadah Sekaligus Ikon Wisata Hits di Semarang

  [Berbagai sumber]
Artikel Asli

Bagikan :

Masjid Bahtera Nabi Nuh, Tempat Ibadah Sekaligus Ikon Wisata Hits di Semarang

maxresdefault-21

Sedang berlibur ke Semarang dan ingin menikmati wisata religi? Ada baiknya travelers berkunjung ke Masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh.

Ya, Masjid As Safinatun Najah ini betul-betul tampak seperti bahtera raksasa. Bukan cuma itu saja, Masjid As Safinatun Najah atau Masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh ini juga sempat jadi sorotan di media sosial lho, travelers.

Masjid ini semakin cantik dan tampak mengapung dengan dekorasi kolam kecil di sekitarnya. Di lantai pertama terdapat aula, tempat wudhu dan toilet yang dihias dengan desain interior unik. Sedangkan lantai dua Masjid As Safinatun Najah ini dijadikan sebagai tempat shalat.

Nah, rencananya di lantai ketiga segera akan digunakan sebagai perpustakaan. Masjid unik di Semarang ini ternyata telah dibangun sejak tahun 2014. Tak sedikit wisatawan lokal dari luar kota yang penasaran dan datang ke Masjid As Safinatun Najah ini.

Bukan cuma beribadah, wisatawan sering mengabadikan momen dengan foto di depan Masjid As Safinatun Najah. Masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh ini berlokasi di Jalan Kyai Padak, Podorejo, Kota Semarang.

 

Untuk mencapai Masjid As Safinatun Najah ini travelers dapat menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari pusat kota Semarang. Jadi tunggu apa lagi, yuk beribadah sekaligus wisata religi ke Masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh yang satu ini.
Artikel Asli

Bagikan :

Teka-teki Letak Kerajaan Mataram di Kotagede

Kotagede2

Finroll.com – Situs bekas bangunan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede Yogyakarta belum ditemukan. Letak persis bangunan kerajaan yang berkuasa pada abang ke-16 itu hingga kini masih menjadi teka-teki.

Pemandu wisata Jelajah Pusaka Mataram, David Nugroho mengatakan ketiadaan peninggalan berupa bangunan dari Kerajaan Mataram Islam di Kotagede, Yogyakarta, bisa jadi karena bangunan pada masa itu terbuat dari kayu. “Jadi tak ada peninggalan bangunan yang tersisa,” kata David saat wisata Jelajah Pusaka Mataram pada Sabtu, 21 April 2019.

Kondisi ini berbeda dengan bangunan Kerajaan Mataram lain di berbagai daerah. Kerajaan Mataram sempat dipindahkan ke Karta pada 1613-1647, lalu ke Pleret di tahun 1647-1681. Baik di Kerto maupun Pleret, terdapat jejak kedigdayaan Kerajaan Mataram Islam.

David Nugroho menceritakan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede berdiri di bekas hutan yang bernama Alas Mentaok. Nama mentaok diambil dari jenis tanaman yang kini langka. Di kompleks makam dan masjid Kotagede terdapat satu pohon mentaok. Beberapa tanaman mentaok lain ditanam untuk dilestarikan di depan Pasar Kotagede.

Pohon mentaok begitu tinggi. Daunnya agak lebar seperti daun salam. Konon, nama Mataram diambil dari kata mentaok arum atau mentaok yang harum. Kemudian menjadi Mentaram, lalu Mataram.

Kembali ke cerita Alas Mentaok yang menjadi asal usul titik Kerajaan Mataram Islam. Alas Mentaok adalah hadiah dari Raja Pajang Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan yang telah mengalahkan musuh Kerajaan Pajang, Arya Penangsang. Namun saat tiba di Alas Mentaok untuk mendirikan padepokan, sudah ada orang lain yang menempati yaitu Ki Jayaprana.

Ki Jayaprana menolak pergi dari Alas Mentaok, kecuali Ki Ageng Pemanahan bisa memindahkannya dengan cara digendong. Dua orang yang sama-sama sakti itu kemudian saling beradu kekuatan. “Ki Ageng Pemanahan hanya mampu menggendong Ki Jayaprana sejauh sekitar 500 meter saja,” ucap David Nugroho.

Di tempat itulah Ki Jayaprana tinggal dan dikenal sebagai Kampung Jayapranan. Adapun Ki Ageng Pemanahan mendirikan padepokan yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin raja pertama, yakni anaknya sendiri, Panembahan Senopati.

Kawasan kerajaan Mataram Islam itu sekarang bernama Kampung Ndalem yang berada di selatan Pasar Kotagede. Di sana, yang tersisa hanya sebagian benteng Cepuri dan batu andesit yang disebut Watu Gilang. Batu itu berwarna hitam berbentuk kotak ukuran 2 x 2 meter dengan ketebalan 30 sentimeter dan disimpan di dalam bangunan kecil di tengah jalan Kampung Ndalem. Tempat ini diyakini sebagai singgasana Panembahan Senopati.

Pada permukaan Watu Gilang terdapat ukiran berupa tulisan latin dengan huruf besar dalam empat bahasa. Istri juru kunci Situs Watu Gilang, Suheryanti menunjukkan ukiran tulisan yang sudah terlihat rusak itu. Bahasa Latin “ITA MOVETUR MUNDUS”, bahasa Prancis “AINSI VA LE MONDE”, bahasa Belanda “ZOO GAT DE WERELD”, dan bahasa Italia “COSI VAN IL MONDU”.

Keempat kalimat itu bermakna “demikianlah perubahan dunia”. Ditulis dengan bentuk melingkar. Bagian tengahnya ada tulisan Latin “AD AETERNAM SORTIS INFELICIS” yang artinya untuk memperingati nasib yang kurang baik. Juga ada gambar segitatiga-segitiga yang berjejeran seperti mata gergaji.
Artikel Asli

Bagikan :

Danau Toba Lahir dari Letusan Maha Dahsyat yang Membuat Bumi ‘Berhenti’ Selama Enam Tahun

danau-toba

Finroll.com – Toba ibarat Indonesia kecil. Dia menampilkan ironi tentang pemandangan yang elok, sumber air dan kehidupan, namun sekaligus menyimpan riwayat—dan ancaman—mematikan.

Danau Toba, yang sejatinya merupakan kaldera gunung api raksasa pernah meletus hebat sehingga mengubah iklim dunia dan nyaris menamatkan umat manusia.

Baca juga: Ingin Pilih Semangka yang Baik Untuk Dikonsumsi? Begini Cara Memilihnya!

Jauh di balik permai Danau Toba yang menghampar di Sumatera Utara, sebuah daya rusak yang mahadahsyat tersembunyi di dalamnya.

Sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat (supereruption), mengirim awan panas raksasa yang menutup nyaris seluruh ujung timur hingga barat Pulau Sumatera.

Jutaan kubik abu dimuntahkan, menutupi Lautan Hindia hingga Laut Arab dan sebagian Samudera Pasifik.

Aerosol asam sulfat yang dilepaskan kemudian menyebar luas ke atmosfir dan menutupi bumi hingga mencipta kegelapan total selama enam tahun.

Suhu bumi mendingin hingga 5 derajat Celsius. Musim dingin global tercipta dari letusan gunung api (volcanic winter).

Fotosintesis terhenti. Tumbuhan sekarat, hewan buruan menipis.

Homo sapiens, nenek moyang manusia modern, berada di titik nadir, hanya bertahan sekitar 3.000 jiwa.

Migrasi manusia pun terhenti dan mereka terisolasi di Afrika, seperti yang terekam dalam kemiripan genetika manusia modern di seluruh penjuru dunia.

Periode ini dikenal sebagai kemacetan populasi manusia modern atau population bottlenecks.

Berada di level tertinggi letusan gunung api, yaitu skala 8 volcanic eruption index (VEI), Toba adalah gunung api super (supervolcano), yang letusannya menjadi yang terkuat dalam dua juta tahun terakhir.

Walaupun letusan gunung api, kini, bukan sepenuhnya kejutan geologis dan penelitian tentang hal ini telah berkembang jauh.

Namun, beberapa pertanyaan dasar tentang supervolcano, seperti Toba, tetap sulit dijawab, karena sedikitnya pengetahuan kita tentangnya.

Karena itu, Toba yang terbentuk dari kombinasi proses vulkano-tektonik sesungguhnya merupakan gudang ilmu geologi dan vulkanologi sekaligus, yang menantang untuk ditelisik lebih jauh.

Toba juga menyedot perhatian para ahli iklim dunia, karena dampak letusannya yang pernah mendinginkan suhu bumi.

Selain juga menarik para antropolog, arkeolog, dan ahli genetika terkait dampaknya terhadap perkembangan dan migrasi manusia modern. (intisari.grid.id)
Artikel Asli

Bagikan :

Hutan Mangrove Kulon Progo, Wisata Baru Yang Lagi Hits

Mangrove-Kulon-Progo-Aerial-View

Finroll.com – Berkunjung ke Yogyakarta memang selalu membawa kenangan dan harapan agar dapat kembali mengunjungi kawasan ini lagi. Selain wisata alamnya yang mempesona, keramahan warga jogja dan sajian kuliner yang beragam dengan harga murah menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Biasanya Sobat Native pergi ke Jogja itu hanya ke daerah Bantul, Gunungkidul. Dimana, kedua kawasan ini mempunyai pesona wisata yang menarik seperti, Pantai dengan bebatuan karang dan area snorkelingnya. Atau, pesona sunset yang tidak bisa ditolak sedikit pun.

Tahukah Sobat Native, bila Yogyakarta tidak hanya mempunyai 2 kota itu saja sebagai andalan pariwisata. Yogyakarta masih punya Kulon Progo yang namanya mulai dilirik oleh Sobat Native lain. Keindahannya seakan mampu menyihir setiap Sobat Native yang datang.

Kehadiran Perbukitan dan air terjun menjadi pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Selain itu, kulon progo juga punya sunset dan dinobatkan memiliki pesona sunset tercantik di Jogja.

Nah, kita tidak akan membahas tentang pantai di Kulon Progo melainkan, pesona hutan mangrove yang saat ini menjadi viral.

Mengenal Hutan Mangrove Kulon Progo

Awalnya hutan ini didirikan sebagai wilayah konservasi dan juga untuk mencegah terjadinya abrasi. Perencanaan menggunakan kawasan ini sudah ada sejak tahun 1989. Ada banyak ekosistem yang bisa dinikmati dikawasan ini.

Daya Tarik

Wilayah Hutan ini masih berada di satu kawasan dari Pantai Glagah Indah dan Pantai Trisik. Jadi, setelah berkunjung ke tempat ini Sobat Native disarankan untuk mengunjungi Pantai Glagah yang terkenal dengan kecantikan senjanya.

Hutan bakau ini memang terlihat memukau, ditambah dengan jembatan yang terbuat dari kayu. Seperti, Sobat Native yang ingin berkunjung ke sini harus tahu waktu-waktu yang tepat datang ke sini. Dimana, disarankan bagi Sobat Native untuk datang pada pagi hari sekitar pukul 8 – 10 pagi dan sore hari mulai pukul 15:30.

Kedua waktu ini sengatan senja belum terlalu menyengat. Sobat Native bisa mengambil berbagai macam foto dan gambar yang mengesankan. Sebenarnya, siang juga waktu yang tepat untuk datang, hanya saja saat siang terik matahari akan terasa sangat menyengat. Sedangkan gazebo yang berada di hutan bakau ini sangat tebatas.

Menikmati hutan bakau ini bisa dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan menikmati beberapa spot menarik yang sudah disajikan pihak pengelola. Selain itu, semilir angin yang behembus menambah kesejukan tersendiri sehingga, berada di tempat ini bisa dibilang susah untuk move on.

Nah, tempat ini ada yang namanya jembatan api-api. Jembatan ini merupakan titik selfie favorit bagi Sobat Native yang lain. Eloknya jembatan ini bisa dilihat dari wahana permainan yang disajikan seperti ayunan. Sobat Native, bisa lho memainkan ayunan ini dan kembali ke masa lalu. Seru bukan.

Kenapa Jembatan ini bisa dinamakan dengan Jembatan Si api-api? Karena, jenis hutan Mangrove yang berada di kawasan ini adalah api-api. Oleh karena itu, jembatan kebanggan Sobat Native ini dinamakan sebagai Jembatan api-api.

Tetapi, Sobat Native harus sedikit bersabar bila berada di spot ini. Maklum saja, spot favorit ini pasti membuat banyak orang yang datang. Jadi, mau tak mau harus rela untuk antri dan menjaga ketertiban agar bisa mengambil sudut yan oke. Menikmati, jembatan tanpa foto juga bisa kok.

Keindahannya bikin mata jadi meleleh Sobat Native. Seakan-akan enggan untuk berkedip, sayang gitu untuk di lewatkan keindahannya walau hanya sekejap. Apabila, menunggu lama dan membosankan membuat jenuh, Sobat Native bisa melakukan hal yang lain, yang pastinya tidak kalah asyik.

Menikmati perahu menyusuri pantai Kadilangu, bersama dengan orang terkasih adalah cara menghilangkan penat serta jenuh. Atau Sobat Native bisa berjalan-jalan mengelilingi kawasan ini dimana, nantinya Sobat Native bisa melihat berbagai macam ikan-kan lucu, imut, nan menggemaskan yang akan menemani perjalanan Sobat Native.

Ada pula kepiting Bakau yang tidak kalah menggemaskannya. Hanya saja, Sobat Native dilarang keras untuk memancing di tempat ini. Jangan kecewa, karena Sobat Native akan disajikan dengan Goa Mangrove yang mempesona. Suasananya masih sangat asri dan alami. Tenang, teduh dan sejuk sekali. Cocok untuk melepas penat dan suntuk.

Jangan kaget, bila saat berada di Goa nyamuk-nyamuk nakal akan menggigit. Lantaran, goa ini cukup lembab dan menjadi ladang bagi nyamuk. Ada pula replika menara eifel yang terbuat dari bambu, sungguh menenangkan sekali bukan.

Terakhir, jangan lupakan senja sore di kawasan ini. Walaupun, tidak seindah di pantai Glagah. Namun, menikmati senja disini juga sama mempesonanya. Langit-langit akan berubah seiring dengan malam yang datang. Sangat tepat sekali momen ini dilewatkan bersama dengan orang-orang yang dicintai.

Rute Dan Lokasi

Lokasi Hutan Mangrove ini berada di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Sobat Native harus menmpuh perjalanan kurang lebih 2 jam lamanya. Dari arah Yogyakarta, Sobat Native bisa arahkan kendaraan menuju ke wates, Kulon Progo. Kemudian, lanjutkan perjalanan menuju pantai Glagah.

Jalur menuju pantai Congot ini merupakan jalur utama menuju kearah purworejo. Sebelum masuk ke TPR pantai Glagah, Sobat Native akan bertemu dengan jalan besar yang bernama jalan Daendles belok kearah kanan kemudian lurus terus kearah barat. Sampai di titik jembatan sungai Bogowonto. Dimana, jembatan ini menjadi pembatas antara Kulonprogo dan Purworejo.

Setelah sampai di titik ini temukan SD Jangkaran, sampai disini jalan hati-hati sampai menemukan pertigaan kecil yang akan mengarahkan Sobat Native menuju ke lokasi. Apabila, masih bingung Sobat Native bisa bertanya atau juga menggunakan apikasi peta yang sudah tersedia di smartphone Sobat Native.

Harga Tiket Masuk

Lalu, berapa harga yang harus di bayar bila berkunjung ke tempat ini. Ada 3 bagian yang bisa Sobat Native pilih. Tiga bagian ini, mempunyai harga yang berbeda-beda pula. 4 ribu rupiah untuk Sobat Native yang ingin mengunjungi Hutan Mangrove yang terkenal dengan jembatan Si api-api.

3 ribu rupiah bila, Sobat Native ingin mengunjungi Hutan Mangrove Wanatirta. Jika ingin menikmati aksi romatis-romantisan dengan naik kapal, Sobat Natïve akan dikenakan biaya sebesar 5 ribu rupiah. Kalau dipikir-pikir, harga yang ditawarkan cukup murah ya. Jam buka tempat ini pukul 6 pagi hingga 6 sore.

Apabila, Sobat Native masih ingin berlama-lama dan mungkin menikmati kawasan yang lain. Sobat Native bisa mencari beberapa penginapan yang ada. Sudah banyak hotel dengan haga mulai dari 150 ribu hingga jutaan tersedia di kawasan ini. Jadi, liburan Sobat Native jadi tenang, aman, dan nyaman.

Hutan Mangrove Kulon Progo adalah kawasan alternatif yang bisa digunakan apabila, wisatawan bingung dengan objek yang hanya itu-itu saja.

Jangan lupa ajak, kawan, sahabat, keluarga untuk datang ke tempat ini. Ingat, Hutan ini sudah menunggu Sobat Native jadi, jangan lupa datang ke sini ya!
Artikel Asli

Bagikan :

Subak, Warisan Dunia Khas Bali yang Harus Dilestarikan

subak

Finroll.com – Setiap 18 April, diperingati sebagai Hari Warisan Dunia, di mana masyarakat di seluruh dunia didorong untuk menyadari pentingnya Warisan Budaya terhadap kehidupan, identitas, dan komunitas mereka. Warisan Budaya yang berupa monumen atau situs sebagai karakteristik manusia rentan akan kerusakan, maka diperlukan upaya-upaya untuk melindungi dan melestarikannya.

Sebagai bagian dari peringatan sekaligus mengajak generasi muda mengenal dan ikut melindungi serta melestarikan Warisan Budaya ini, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar rangkaian program seperti seminar bersama organisasi terkait, pemangku kepentingan, dan pemerhati warisan dunia.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Nadjamuddin Ramly mengatakan, tahun ini perayaan Warisan Budaya di Indonesia difokuskan di Denpasar, Bali.

Di sana akan diadakan berbagai macam kegiatan yang mengajarkan anak muda untuk melihat lebih dekat subak yang ada di sana.

“Subak merupakan rural landscape yang berada di lima kabupaten di Provinsi Bali. Di sini menunjukkan bahwa di kawasan ini ada pedesaan dengan persawahan yang indah,” ujar Nadjamuddin saat temu media di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin 25 April 2019.

Nadjamuddin mengungkap, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pelestarian subak. Melalui pengamatan langsung di lapangan, ditemukan kalau ada pembuatan helipad di tengah subak yang dibuat Bupati Tabanan. Pembuatan helipad ini tentu akan membahayakan keberadaan subak. Jika terus dibiarkan, Indonesia juga terancam akan kehilangan titel Warisan Dunia karena dianggap tidak mampu menjaga Warisan Dunia.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pemerintah daerah untuk mempertimbangkan kebijakan yang dapat merusak keaslian situs subak.

Selain Sistem Subak di Bali, Indonesia secara total sudah memiliki empat Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Keempat Warisan Dunia itu adalah Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, dan Sistem Subak. Nadjamuddin berharap, di tahun 2019 Indonesia akan menambah lagi satu Warisan Dunia yaitu sistem pertambangan Kolonial di Sawahlunto, Sumatera Barat.
Artikel Asli

Bagikan :

5 Kuliner Kekinian di Pasar Sengol Bekasi

gulali-arumanis

Festival bertajuk Pasar Senggol 2019 kembali memanjakan pecinta kuliner di Bekasi. Festival kuliner tahunan ini diadakan di Summarecon Mall Bekasi, 28 Maret-28 April 2019.

Ada puluhan tenant sajian modern dan kekinian yang bisa disambangi. Ada banyak kuliner unik hingga yang tengah populer.

Berikut kumparan rekomendasikan lima jajanan yang bisa disantap sambil menikmati keramaian Pasar Senggol.

1. Korean Hotdog
Korean hotdog bisa menjadi pilihan bila ingin kenyang dengan praktis. Perpaduan roti bun, sosis jumbo berukuran 20 dan 30 cm, serta mushroom sauce di atasnya bisa membuat perut langsung terasa penuh.

Ada pula hotdog isian kimchi dan bulgogi. Isiannya yang melimpah. Sajian ini cocok disantap untuk berdua. Seporsi korean hotdog dibanderol Rp 25-45 ribu.

2. Lungo Potatoes
Kentang goreng unik ini berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dijual Rp 30-45 ribu per kantongnya. Lungo potatoes terdiri dari kentang goreng panjang dengan saus sambal, tomat, dan mayonnaise.

Bisa pula request tambahan sosis atau chicken pops renyah. Pengunjung juga bisa meminta tambahan mozzarella. Hmm, lumer di atas kentang nan gurih!

3. Magic Snack
Mudah menemukan Magic Snack karena tenant ini paling ramai di Pasar Senggol. Sesuai namanya, Magic Snack menyajikan kudapan yang ‘ajaib’ tampilannya. Snack manis warna-warni ini dilengkapi es krim taro dan sprinkles. Harganya Rp 20-35 ribu. Tergantung isiannya.

Nitrogen jadi daya tarik kudapan ini. Suhunya hampir minus 100 derajat celcius. Bikin efek asap dingin, bahkan saat makanan sudah masuk di mulut.

4. Gulali Arumanis
Ada juga jajanan jadul yang bisa membuat pengunjung bernostalgia. Salah satunya permen gulali aneka bentuk.

Dibuatnya dari gula yang diberi pewarna makanan. Gulalinya jadi daya tarik anak-anak karena rasanya legit. Harganya Rp 10 ribu. Ada gulali berbentuk bunga, hewan, hingga dot bayi.

5. Kopi Yor
Kopi susu juga bisa ditemukan di Pasar Senggol. Salah satunya Kopi Yor.

Ada juga es kopi chi dengan tambahan leci hingga. Lainnya ada es kopi cha bercita rasa matcha. Tersedia pula minuman berbasis cokelat bagi pelanggan yang tidak ngopi. Kopi Yor dibanderol mulai Rp 18-30 ribu tergantung varian.
Artikel Asli

Bagikan :

Ondo Langit, Wisata “Adrenalin” Gumuk Reco Sepakung Semarang

khoiru1_4nam-1549627845549

Finroll.com – Kabupaten Semarang Jawa Tengah memang dikenal sebagai daerah dengan destinasi wisata yang tiada habisnya. Salah satu yang baru adalah destinasi wisata Ondo Langit di Desa Sepakung, Kecamatan Banyu Biru.

Ya, desa yang awalnya tidak banyak dikenal orang ini, sekarang berubah menjadi desa yang paling dicari oleh wisatawan. Seperti namanya, Ondo Langit memiliki arti tangga menuju langit. Sebuah wahana wisata adrenalin sekaligus wisata alam yang sangat indah.

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati sensasi menaiki tebing curam setinggi 45 meter dan menikmati pemandangan alam dari lereng tebing berwarna-warni itu.

“Wahana Ondo Langit memang sekarang yang menjadi unggulan di desa kami. Setiap hari, wahana ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pada akhir pekan saja, pengunjung bisa mengantre ratusan orang untuk menunggu giliran menaiki wahana ini,” kata Kepala Desa Sepakung, Ahmat Nuri, Kamis, 11 April 2019.

Wahana Ondo Langit tersebut merupakan salah satu wahana yang ada di obyek wisata Gumuk Reco. Selain obyek wisata itu, Ahmat menerangkan jika Desa Sepakung memiliki banyak obyek wisata lain yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Mandiri Jaya, seperti Cemoro Sewu, Air Terjun Gua Semar, Bumi Perkemahan Balong, wahana Sunset dan Sunrise di Dusun Pager Gedog dan banyak lagi wisata lainnya.

“Kami mengembangkan obyek-obyek wisata itu dengan memanfaatkan dana desa. Selain itu juga ada bantuan dari Pemkab Semarang dan Pemprov Jateng untuk peningkatan infrastruktur menuju obyek wisata,” paparnya.

Pemanfaatan dana desa untuk optimalisasi potensi wisata lanjut Ahmat ternyata berdampak signifikan. Selain membuat desa semakin terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan, pendapatan desa dari wisata juga meningkat drastis. (ANTARA Foto)

“Untuk wisata Gumuk Reco dengan wahana Ondo Langitnya saja bisa menghasilkan Rp50-60 juta perbulan. Kalau ditotal dengan wahana-wahana wisata lainnya, pemasukan ke desa bisa mencapai ratusan juta perbulannya,” paparnya.

Hal itu tentu saja membuat kesejateraan masyarakat desa semakin meningkat. Dengan ramainya wisatawan, maka perekonomian masyarakat dapat bergerak.

“Selain itu, APBDes kami juga meningkat, dari semula Rp1,5 miliar di tahun 2015 kini menjadi Rp2,1 miliar di tahun 2019. Kami akan terus berupaya mengoptimalkan potensi wisata ini untuk kemajuan desa kami,” katanya.

Di lain kesempatan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan jika Jawa Tengah merupakan provinsi penerima dana desa terbesar di Indonesia. Pada tahun 2019 ini, dana desa yang digelontorkan untuk 7.809 desa di Jawa Tengah sebesar Rp6,7 triliun.

“Untuk itu saya minta kepada seluruh kepala desa di Jawa Tengah untuk terus berkreasi dan berinovasi untuk memajukan desanya masing-masing. Desa-desa di Jawa Tengah harus menjadi desa-desa paling maju dan menjadi percontohan di seluruh Nusantara,” katanya.

Menurut Ganjar, dana desa diberikan oleh pemerintah sebagai upaya untuk pemerataan kemajuan Indonesia. Dengan dana desa tersebut, diharapkan desa-desa dapat maju dan berkembang.

“Pemerintah hanya memfasilitasi, pengguna dana desa yang bekerja. Saya titip pesan, tolong penggunaan dana desa benar-benar sesuai program, transparan, akuntabel dan bermanfaat. Tolong libatkan masyarakat dan buka ruang informasi publik seluas-luasnya agar masyarakat dapat ikut mengawasi,” pesannya.(viva)
Artikel Asli

Bagikan :

Legenda Danau Kaco, Sebuah Surga Tersembunyi di Jambi

Danau-Kaco

Finroll.com – Danau Kaco di Provinsi Jambi memiliki pesona. Airnya jernih kebiruan seperti kaca. Menurut cerita, ada legenda yang berkembang dari sana.

Melalui cerita yang dipercaya turun-temurun, kilauannya datang dari intan titipan milik para pemuda yang ingin melamar putri seorang raja bernama Raja Gagak. Putri itu sungguh cantik jelita.

Namanya Napal Melintang. Menurut legenda, kecantikannya bahkan mampu memikat hati ayahnya sendiri. Raja Gagak pun membawa lari putrinya tersebut lalu meninggalkan intan dari para pemuda di dasar danau.

Sampai saat ini, masyarakat sekitar masih percaya bahwa kilauan di dasar danau adalah intan peninggalan Raja Gagak tersebut.

Pada dasarnya, legenda tersebut sudah ada beberapa versi. Ada juga yang mempercayai bahwa Raja Gagak begitu tamak. Siapapun yang bermaksud meminang putrinya diwajibkan menyerahkan harta berupa emas dan intan.

Sayangnya, keserakahan itu membuat sang putri ternoda sehingga ia dibenamkan ke dalam danau bersama dengan seluruh harta yang diberi lelaki yang ingin meminangnya. Sejak itu, danau tersebut berkilauan cahaya.

Menikmati pesona Danau Kaco

Terlepas dari legenda, keindahan Danau Kaco layak untuk dinikmati. Wisatawan bisa menjadikan danau ini sebagai destinasi yang mesti dikunjungi saat berada di Jambi.

Lokasi Danau Kaco ada pada satu kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Desa Lembur, Kecamatan Gunung Raya. Kalau dipetakan dan dgambar, lokasi danau bak mutiara biru yang berada di tengah rimbunnya pohon rindang.

Untuk menikmati keindahannya, pengunjung mesti rela melakukan perjalanan yang agak jauh karena letaknya jauh dari pusat Kota Jambi.

Dari kota, wisatawan harus melakukan perjalanan menuju Sungai Penuh yang berjarak 500 kilometer. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Lumpur dengan waktu 45 menit.

Dari Desa Lumpur petualangan mengunjungi Danau Kaco dimulai. Untuk memasuki Taman Nasional, wisatawan harus berjalan kaki menyusuri hutan selama kurang lebih 4 jam.

Meski perjalanan terlihat cukup melelahkan, namun segalanya terbayar ketika sampai di danau tersebut. Pemandangan sekitar danau dikelilingi oleh rindangnya pepohonan dengan udara yang sejuk.

Pada malam hari, pesona Danau Kaco makin kentara. Apalagi, pada saat bulan purnama.
Artikel Asli

Bagikan :